Minggu, 15 Agustus 2010

MIMPI, IMAJINASI, DAN REALITY

Agus Saeful Mujab

Hidup ini kadang diluar logika. Semangat, keyakinan optimisme bisa mengalahkan logika. Optimis, keyakianan bisa muncul jika sebuah angan-angan, cita-cita, khayalan, imajinasi, tentang harapan kehidupan (dalam arti luas) yang lebih baik. Seorang peraih nobel Albert Einstein, Ilmuwan Amerika Serikat kelahiran Jerman (1879–1955) mengatakan Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan.


Bahasa Ahmad Dani pentolan Dewa 19 dalam syair lagunya mengatakan imajinasi lebih berarti dari pada ilmu pasti. Maka tak heran jika ada seorang ibu rumah tangga yang biasa-biasa saja, tanpa pengalaman dan pendidikan yang memadai bisa membuat takjub masyarakat Filipina. Dengan gagah berani ia mampu membangun fondasi demokrasi yang menyakinkan di negara bermata uang peso itu. Ia adalah perempuan biasa yang bernama Cory Aquino.



Amerika Serikat mempunyai seorang legendaris Abraham Lincoln. Padahal ia adalah seorang yang pernah terkena depresi mental, berulang-ulang kali gagal menjadi sorang wakil rakyat, pengusaha dan wakil presiden, ia nekat menjadi mencalonkan diri menjadi Presiden AS ke-16 (1861-1865). Dunia mengaggumi akan prestasinya, patungnya kini terletak di Boulevard di Washington DC, seakan terus mengamati, melihat perkembangan kota Washington DC Dalam memorialnya Abraham Lincoln dijuluki Abe Jujur dan Pembebas Agung karena semangatnya untuk menghapuskan perbudakan.


Di Jepang Seichiro Honda mengalami putus tangan hanya untuk mencapai cita-cita sebagai pendesain piston. Pada suatu kesempatan, akhirnya ia berani menulis “SUKSES 98% DIBENTUK OLEH KEGAGALAN”. Seorang kakek berumur 65 tahun, dengan muka tebalnya memasuki ribuan restoran untuk menawarkan cara menggoreng ayam, akhirnya direstoran yang ke 1.009 idenya bisa diterima. Kakek tua yang hanya bermodal pensiun 105 Dolar itu bernama Kolonel Sanders.


Seorang motivator asal Amerika Serikat, Robert Kiyosaki mengatakan, ”Seberapa besar kesuksesan Anda bisa diukur dari seberapa kuat keinginan Anda, setinggi apa mimpi-mimpi Anda, dan bagaimana Anda memperlakukan kekecewaan dalam hidup Anda.” Sementara Dr A P J Abdul Kalam, Presiden India ke-11 (2002–2007) berpendapat “Kamu harus bermimpi sebelum mimpimu menjadi kenyataan.”


Sedangkan Gabriel Garcia Marquez, novelis terkemuka Kolombia, peraih Nobel Sastra 1982 mengatakan "Tidak benar jika dikatakan orang berhenti mengejar mimpi karena mereka sudah tua. Yang benar orang-orang itu menjadi tua justru karena mereka berhenti mengejar mimpi-mimpi itu." Dan ternyata mimpi, dibarengi dengan imajinasi, dijabarkan dengan pengalaman (pahit manisnya) dibumbui dengan keyakinan, mampu menghasilkan karya  luar biasa di luar logika. Dari berbagai sumber.

0 comments:

Posting Komentar