Senin, 18 April 2011

Pentingnya Melek (Misteri) Sejarah

Okezone, Selasa, 15 Maret 2011 - 19:07 wib
Judul Buku : Menguak Misteri Sejarah
Penulis    : Asvi Warman Adam
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Cetakan : Oktober 2010
Tebal : xii + 304 halaman
ISBN : 978-979-709-504-8

Sejarah selalu memiliki misteriusitas cum kontroversialitas. Sejarawan yang berani menguaknya bisa disensus dengan jari. Salahsatunya adalah Asvi Warman Adam melalui buku Menguak Misteri Sejarah ini. Dengan amat santai, di sini penulis yang juga menjabat sebagai Ahli Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Politik LIPI ini menyajikan misteri sekaligus kontroversi sejarah yang hingga kini masih memendungi benak bangsa Indonesia. Jangan heran jika terkadang beberapa ulasan historisnya membuat Anda merasa buta.
Misalnya tentang seorang jurnalis Tionghoa pendiri Koran Sin po, Ang Yan Goan, yang ternyata merupakan pelopor penggunaan istilah “Indonesia” dan “Bangsa Indonesia” di kalangan pers Indonesia (hal. 27-31). Misteri tragedi G30S 1965 yang bagi Asvi berbau efek konflik internal antara Kodam Diponegoro dengan Letkol Untung juga masuk dalam deretan bahasannya. Sementara misteri kehidupan, kematian, dan dugaan hubungan cinta antara Tan Malaka dan Paramitha Abdurrahman, tak ketinggalan untuk diperkalamkannya (hal. 74-100).

***

Kelebihan buku ini ada pada kelihaian Asvi untuk tak terpeleset dalam kepurbaan trik penceritaan sejarah yang datar sebagaimana hal itu merajai dunia pengajaran sejarah kita selama ini. Semua kisah dibabarkannya dengan aksentuasi ajakan untuk menjadikan sejarah sebagai referensi dan teladan nilai. Ia juga menyangkutkan setiap kisah pada realitas kekinian bangsa yang kian hari kian terpuruk ini. Sehingga masa lalu terasa begitu kontekstual, dekat, dan tak berjarak dengan siapa saja.

Ini bisa dilihat pada kisah S.K. Trimurti, istri Sayuti Melik, sang pengetik naskah Proklamasi. Diceritakan, tokoh pers dan perburuhan yang termasuk salah satu penandatangan Petisi 50 itu adalah sosok pendahaga ilmu. Cintanya pada ilmu merangsangnya untuk berkuliah lagi meskipun saat itu usianya telah mencapai setengah abad (hal. 13). Bahkan ia berani menolak jabatan menteri yang ditawarkan Soekarno demi ambisi keilmuannya. Ini amat kontras dengan tabiat gila jabatan elit negeri di era ini yang saling memangsa satu sama lain demi sebongkah kursi.

Terkait kasus suap yang melibatkan institusi kepolisian akhir-akhir ini, kisah “ilmu kebal suap” Jenderal Hoegeng saat ia menolak rumah berperabotan lengkap yang disodorkan para cukong perjudian di Sumatera Utara untuknya, perlu direnungkan. Daripada harus meninggali “rumah suap” itu, sang Jenderal lebih memilih tidur di hotel sambil menunggu kesiapan rumah dinasnya. Tapi saat rumah dinasnya hanya tinggal dimasuki saja, sang penggagas pemakaian helm bagi pengendara sepeda motor itu malah menolak untuk memasukinya. Pasalnya di dalam rumah itu telah teronggok aneka perabotan mahal yang lagi-lagi dihadiahkan para cukong untuknya. Tak ayal, ia langsung membuang sampah-sampah mewah itu secara paksa ke emperan jalan raya (hal. 15).

***

Itulah beberapa lembar berita gembira yang termaktub di buku ini. Sedangkan berita buruknya, sejarah tetap akan terus memisteri. Selain karena ketiadaan data yang cukup otorotatif, faktor rekayasa dan sengatan racun politik juga turut bersaham di sana. Apalagi jika penguakan fakta sejarah tertentu terasa menyerempet polah para penguasa. Oleh karena itu, Asvi menekankan betapa pentingnya sikap melek sejarah ditradisikan sejak dini dengan melakukan beberapa pekerjaan peradaban penting.

Pertama, pemerintah harus menguatkan komitmen untuk menuliskan sejarah kanan-kiri-depan-belakang bangsa. Tulisan berjudul G30S Dalam Pendidikan Sejarah (hal. 134-144) menunjukkan betapa lemahnya komitmen pemerintah untuk mengupayakan itikad mulia itu selama ini. Misalnya, hingga kini buku rujukan sejarah tragedi 1965 belum diterbitkan. Padahal sejak tahun 2004, Megawati Soekarno Putri, presiden RI kala itu, telah memerintahkan Mendiknas, A. Malik Fadjar, untuk menerbitkannya. Alhasil, pengajaran sejarah, khususnya tragedi G30S 1965, di dalam dunia pendidikan kita tampak menyesatkan hingga kini.

Kedua, sejarah harus (di)sepi(kan) dari rekayasa politik. Tiga tulisan; Lekra dan Kejahatan Berbasis Kebencian (237-240), Melarang Pengungkapan Kebenaran (hal. 241-245), dan Pengalaman (Tidak) Melarang Buku (hal. 246-249) mengendus adanya kuasa politik najis di balik kasus pelarangan buku oleh Kejaksaan Agung RI sejak Desember 2009. Padahal satu di antara buku yang dilarang, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karya Jhon Roosa adalah buku ilmiah terbaik abad ini.

Ketiga, sambil menyinggung sejarah Supersemar yang hingga kini masih diliputi kegaiban, Asvi melihat adanya defisit kesadaran historis bangsa Indonesia. Terutama dalam pelestarian arsip-arsip sejarah dan penyelamatan catatan-catatan pribadi yang perlu diketahui publik. Terkait hal ini, perkembangan dinamika politik-pemerintahan semisal Otonomi Daerah yang berdampak serius pada penulisan sejarah bangsa harus segera disoal. Ini terjadi pada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang -sejak otonomi daerah berjalan- tak lagi membawahi arsip nasional daerah.

Itulah nilai lebih lain buku ini. Dengan menguak misteri-misteri sejarah yang tetap akan terus memisteri, ia telah mempasakkan pentingnya sikap dan watak melek (misteri) sejarah. Sayangnya, pembaca akan kesulitan untuk memilah mana “yang sejarah” dan mana opini penulis atas “yang sejarah”. Keduanya terasa memanunggal. Ditambah lagi ketiadaan lampiran kepustakaan yang pasti cukup mengganggu. Semoga itu tak mengurangi aura pikat buku ini.

Yasser Arafat
Pemerhati buku, bergiat di komunitas Macakata Indonesia

Sumber http://suar.okezone.com/read/2011/03/15/285/435224/285/pentingnya-melek-misteri-sejarah

0 comments:

Posting Komentar