Senin, 18 April 2011

Sayap-Sayap yang Tandas

Rabu, 30 Maret 2011 - 13:51 wib
Cover buku Garis Perempuan
Judul Buku: Garis Perempuan
Penulis : Sanie B. Kuncoro
Penerbit: Bentang, Yogyakarta
Tebal buku: 373 Halaman
Cetakan : I - 2010

Takdir adalah kesunyian bagi setiap individu untuk mengurai perjalanan hidupnya. Setiap dari kita pasti mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda. Bahkan kita semua tengah berada dalam sebuah perjalanan tak terduga akan serupa apa, berakhir di mana dan sampai kapan. Kita sedang menuju sesuatu, seperti proses migrasi. Di mana alam telah mengatur sistematika migrasi yang sempurna bagi setiap spesies. Sedemikian rupa sistematika itu terilhamkan dalam diri mereka sehingga memungkinkan mereka mengenali jalur perjalanan yang belum pernah dilalui atau dilakukan.
Di atas segalanya para spesies akan tetap mengambil risiko dengan keberanian untuk menempuh perjalanan. Mengambil risiko tertinggi menempuh perjalanan demi melanjutkan sebuah siklus keseimbangan alam dan menjadikan perjalanan tersebut sebagai pengambaraan menakjubkan yang tidak dapat terukur dengan angka-angka.

Takdir adalah kepingan puzzle kehidupan yang belum kita akan ketahui wujudnya, sebelum kita akan melalui dan merasakannya. Ia adalah sesuatu yang abstrak, asing, tidak dapat terencana, walau kadang dalam beberapa hal masih bisa kita antisipasi akibat-akibatnya. Takdir merupakan garis kehidupan yang membujur bagi jalan hidup setiap manusia.

Sebuah garis hidup yang pada suatu ketika, kita mesti bertanggung jawab untuk memilihnya sebagai poros bagi kita untuk terus bergerak. Sebab, kita juga punya kewenangan untuk menentukan takdir yang telah kita pilih. Kita adalah tuan bagi nasib kita sendiri. Memilih jalan apa dan yang mana, walau kadang juga tak seindah yang kita impikan. Menjadi tuan bagi nasib sendiri berarti keberanian untuk menentukan masa depan dengan pilihan-pilihan yang tidak biasa, pilihan kita sendiri, pilihan yang bersumber pada kesadaran panggilan nurani.

Buku berjudul “Garis Perempuan” karya Sanie B. Kuncoro bercerita mengenai tapak-tapak takdir yang harus dipilih, dipilah dan dilalui empat perempuan yang sejak belia tumbuh bersama. Mereka menjalani takdir sebagai perempuan serta menemukan bahwa hidup tak selalu terkonfigurasi serupa dongeng masa lalu para peri, yang menyimpan berbagai keindahan, kedamaian, dan ketentraman.

Kebun kehidupan pun acapkali melalui kemarau panjang tak berkesudahan yang mengiris pilu menunggu datangnya air hujan. Mereka tak mampu mengelak dari kepatutan terhadap partitur perkawinan, walaupun yang teralun adalah selarik nada pahit. Namun, mereka meski hadapi dengan kepala tegak. Tak hanya sesederhana itu, bagi mereka, jejak takdir yang tertuang dalam goresan tinta buku ini adalah sebuah perjalanan yang menguras energi, pikiran dan menggerus perasaan. Diperlukan sebuah ketabahan dan ketangguhan untuk menelusuri jalur-jalur ini, sehingga seluruh tikungan dan belokan bisa terlalui dengan mulus bagaimana beratnya medan serta menjadikan perjalanan mencapai tujuan akhirnya.

Dengan latar belakang keluarga yang berbeda Ranting, Tawangsri, Gendhing, dan Zhang Mey melakonkan sebuah drama kehidupan yang pelik. Penggalan-penggalan kisah berlumur nilai, sebenarnya baru dimulai ketika mereka mulai berpisah. Sesaat begitu lulus SMA, saat mereka mulai mengerti beratnya bertahan hidup, ketika masa remaja mereka menjelang lunas untuk kemudian memasuki gerbang dewasa.

Pahit getirnya kehidupan terlukis dalam kanvas kehidupan Ranting, karena terpaksa demi membayar biaya pengobatan Ibunya yang terkena tumor. Merelakan dirinya diperistri oleh Basudewo, orang kaya di kampung yang juga doyan menikah. Sehingga, ia memperoleh uang untuk operasi Ibunya.

Kemiskinan memanggilnya untuk nekad, demi baktinya pada Ibu. Walau pada akhirnya, ia menceraikan suaminya setelah senggama yang keseratus. Karena kemiskinan pula, Gendhing tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang paling tinggi. Ia, pada akhirnya memilih untuk menjadi perias di salon Cik Ming, langganan mencuci Ibunya. Sebuah pekerjaan mulia agar ia belajar mandiri.

Sampai suatu ketika, jembatan takdir mengantarkan pada persoalan pelik, saat tabungan Ibunya yang berjumlah dua puluh juta dan di simpan di sebuah koperasi hilang, karena kantornya tutup dan orangnya melarikan diri. Padahal, uang yang disimpan Ibunya adalah uang pinjaman dari seorang bandar. Dengan tekad untuk melepaskan diri dari takdir kemiskinan dan kesempatan untuk  melunasi hutang Ibunya, Gendhing hampir terperosok untuk menjual dirinya pada seorang pengusaha China. Namun, berkat keteguhan hatilah ia memilih tak akan menyerahkan keperawanannnya pada sebuah nilai materi belaka.

Berbeda dengan keduanya, nasib Tawangsri lebih mujur. Ia melanjutkan studinya di sebuah Universitas ternama. Namun, kehidupan tak selalu indah jika kita tidak melihat dan merasakannya sendiri. Walaupun berasal dari keluarga berada dan menjadi anak tunggal dalam keluarga. Tawangsri merasakan ketidaksempurnaan dalam hidupnya, saat sosok ayah yang harusnya menjadi pelindung dan kepala keluarga malah menjadi beban. Ayahnya seorang penjudi yang hidupnya habis di meja-meja judi. Tetapi, entah mengapa Bundanya sanggup bertahan mengisi lembar-lembar kehidupan bersama Ayahnya yang tidak pernah memberikan kasih sayang padanya.

Hingga ia sendiri berpendapat "cinta adalah bentuk lain dari ketidakberdayaan. Sebab, atas nama cinta seseorang bisa menyerah pada seseorang lain, dengan atau tanpa alasan. Dengan mencintai, bisa membuat seseorang tak mampu menolak suatu pengaruh, mengendalikan diri atau melupakan seseorang. Bahkan, mungkin tak mampu membendung gejolak perasaan, menghayutkan diri dengan atau tanpa kesadaran, bahkan menyerahkan dalam dikte". Tidak persoalan walau itu keperawanan. Seperti yang terlukis dari sikap Tawangsri sendiri untuk menggunakan, haknya menentukan siapa laki-laki pertama yang akan memerawaninya dengan atau tanpa pernikahan. Atau penyerahan jiwa raga Zhang Mey pada Tenggar sang pacar, yang tidak mendapat restu keluarga.

Begitulah takdir bekerja. Setiap lengkung peristiwa mempunyai dimensi misterinya sendiri yang tidak akan selalu terjelaskan, betapapun tersedia ribuan kata untuk menarasikannya. Membaca buku ini, mengajak kita untuk bersolek dalam cermin kisah empat perempuan yang mewakili karakter manusia. Sebuah album waktu yang mungkin juga akan sampai pada kita?.

Ahan Syahrul
Pegiat di rumah baca cerdas Malik Fadjar Malang


Sumber http://suar.okezone.com/read/2011/03/30/285/440489/sayap-sayap-yang-tandas

0 comments:

Posting Komentar