Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2011

Sejarah Bahasa Sunda dan Perkembangannya


Bahasa menunjukkan bangsa, kata ini dipahami betul oleh para sarjana sunda. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, dikalangan Sarjana Sunda yang dianggap cukup berpengaruh bukan hanya bahasa dan etnisitas, tapi juga budaya. Dengan demikian, bahasa adalah representasi, cerminan suatu kebudayaan; dan menentukan serta mendukung etnisitas. Bahasa dianggap sebagai pengusung terpenting dari suatu Budaya.
Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa yang mandiri mulai pada tahun 1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama (Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus tersebut diterbitkan di Amsterdam, disusun oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur.
Tidak diketahui pasti kapan bahasa sunda lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.
Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).

Kamis, 28 April 2011

Pers, Nasionalisme dan Demokrasi Indonesia Raya

Senin, 25 April 2011 , 08:36:00 WIB

  

PERS Indonesia lahir dari rahim perjuangan melawan belenggu kolonialisme yang mencengkeram rakyat negeri jajahan di bumi nusantara selama bertahun-tahun. Adalah kaum pers yang pertama kali menggelorakan dan memperkenalkan sentimen kebangsaan-nasionalisme Indonesia lewat produk jurnalistik yang masih sangat sederhana di dekade awal abad ke-20 silam.
Wartawan-pejuang di masa itu, seperti Tirto Adi Suryo dan Mas Marco Kartodikromo, adalah yang pertama kali menanamkan perasaan senasib sependeritaan di kalangan rakyat negeri jajahan yang berada di tempat-tempat yang saling berjauhan dan memiliki perbedaan latar belakang budaya yang begitu rupa.
Bukan kelas pengusaha yang menanamkan kesadaran nasionalisme, bukan kelas ambtenar, juga bukan kelas serdadu. Sekali lagi, kelas wartawan-pejuang lah yang menanamkan kesadaran di tengah masyarakat terjajah akan arti penting gerakan perlawanan untuk memperoleh kedaulatan.
Dengan historical account itu, sudah sepatutnya kita menyadari kembali bahwa salah satu tugas pers Indonesia adalah menjaga kepentingan nasional untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur lewat jalan demokrasi yang memberikan hak politik dan kesempatan yang sama kepada setiap warganegara.
Pers Indonesia tidak bekerja untu menjaga kepentingan partai politik, kelompok dan orang per orang. Juga tidak bekerja untuk mengawal kepentingan pemilik modal. Bahkan sudah seharusnya kita berani menegaskan bahwa perusahaan media dan insan pers adalah dua hal yang berbeda.
Belakangan ini Indonesia dihadapkan pada bahaya baru berupa praktik politik, hukum, dan ekonomi yang menghalalkan segala cara untuk memaksimalisasi keuntungan. Bahaya ini juga mengancam dunia pers Indonesia.

Rabu, 27 April 2011

Tak Ada Anggaran Pembelian Naskah Kuno

WARISAN BUDAYA


KOMPAS/INGKI RINALDI
Perawatan naskah kuno Minangkabau dalam huruf Arab Melayu tidak bisa optimal karena ketiadaan anggaran. Naskah kuno yang berada di masyarakat banyak diperjualbelikan dan sebagian dibawa ke luar negeri. Naskah yang ada pun belum dibuat dalam bentuk mikrofilm.

Seni Hikayat Aceh Terancam Punah

Banda Aceh, Kompas - Seni hikayat Aceh terancam punah. Saat ini pertunjukan seni ini kian jarang ditemui dalam seni pertunjukan maupun pesta hajatan masyarakat Aceh. Selain itu, ribuan hikayat lisan yang pernah ada di Aceh sampai saat ini belum pernah dituliskan dan hanya dikuasai segelintir seniman yang sudah lanjut usia di wilayah Aceh selatan.

Kamis, 14 April 2011

Sastra Menyatukan Kita...

KONSER KOINSASTRA


KOMPAS/IWAN SETIYAWAN 
Penyanyi Ayu Laksmi (kiri) berkolaborasi dengan pemain harpa Maya Hasan serta penari I Nyoman Sura dalam Konser #Koinsastra di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (13/4). Konser gratis yang digagas komunitas sastra peduli Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin ini menampilkan seniman musik dan tari, sastrawan, serta budayawan. Pada konser digalang pula sumbangan untuk membantu keberlangsungan hidup PDS HB Jassin.