Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2012

"Sekarang Saat yang Tepat Naikkan Harga BBM"

Kata Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo


Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo, foto www.vivanews.com
VIVAnews - Usianya sudah 60. Pria ini masih sehat. Jalannya tegap. Masih seperti usia 45. Dialah profesor yang telah menaklukkan 40 gunung tertinggi di dunia yang juga Wakil Menteri Energi: Widjajono Partowidagdo.
Rabu pagi, 30 November 2011, pukul 08.00 WIB, profesor perminyakan itu menepati janji mengunjungi redaksi VIVAnews.com di Menera Standard Chartered Bank, Lantai 31, Jakarta.
Penampilannya tak seperti Wakil Menteri, mengenakan kemeja besar tak dimasukkan dan tas kumal bermerek Pekan Energi Nasional 2011: Energi Pro Rakyat. Tak ada tanda, kalau yang datang itu wakil menteri.

Dia merupakan petinggi negeri ini yang unik. Selain sederhana, rambutnya gondrong, dan berani berkata apa adanya. Termasuk mengatakan perlunya pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak.

Senin, 26 Maret 2012

Syekh Ahmad Yasin: Mujahid dari Jalur Gaza

Syekh Ahmad Yasin: Mujahid dari Jalur Gaza
Syekh Ahmad Yasin                                         Foto islamtimes.org       
Ia adalah seorang ulama yang tak pernah berhenti untuk membangkitkan semangat umat Islam untuk mengusir penjajah Israel dari tanah milik kaum Muslim.
‘’Tanah Palestina adalah wakaf milik umat Islam. Tak ada seorang pun yang boleh membiarkannya lepas, walaupun hanya sejengkal.’’ Seruan yang memompa semangat umat Islam untuk melindungi Palestina dari gangguan Zionis Israel itu diungkapkan seorang pejuang Islam terkemuka bernama Syekh Ahmad Yasin.
Syekh Ahmad Yasin adalah pejuang Islam sejati. Meski seluruh tubuhnya mengalami kelumpuhan akibat sebuah kecelakaan saat berolahraga, semangat juangnya untuk membela Islam dan Palestina, sebagai kota suci ketiga bagi umat Islam, sungguh amat luar biasa. Di tengah keterbatasan fisik, ia justru mampu mendirikan sebuah organisasi perjuangan dan politik bagi rakyat Palestina bernama Hamas.

Selasa, 31 Mei 2011

Eko Maulana Ali Sosok Pemimpin Haus Ilmu Pengetahuan

SIAPA bilang kalau sudah tengah baya atau menjadi pejabat penting tak ada waktu lagi buat berlomba menimba ilmu pengetahuan di bangku kuliah?. Ternyata hal ini tidak berlaku bagi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, H Eko Maulana Ali. Walau sederet embel-embel gelar pendidikan yang telah disandangnya baik di dalam maupun luar negeri tak menyurutkan bapak lima anak ini untuk berjibaku bersama ribuan mahasiswa mengejar IPK tertinggi di Universitas Terbuka Jakarta. Ilmu pengetahuan baginya ibarat orang haus yang selalu ingin minum. Walau hampir tak punya waktu untuk belajar lantaran schedule kerja super padat, seluruh sisa waktu yang ada dihabiskan untuk belajar dan terus belajar. Di sela kesibukan, ia menyempatkan diri berselancar di dunia maya, dengan notebook kesayangannya ia mulai mencari materi-materi berkaitan dengan pelajaran maupun halhal yang menyangkut pekerjaan sehari-hari sebagai orang nomor satu di Negeri Serumpun Sebalai. Tidak heran bila perjuangannya ini berbuah kenyataan. Hari ini senyum tipis yang begitu bersahaja dan berwibawa meluncur dari wajah sang pemimpin yang tak kenal lelah memberikan teladan bagi masyarakatnya. Betapa tidak bersama 3.079 wisudawan diploma dan sarjana dan 88 wisudawan pascasarjana di Gedung UT Convention Center Kampus UT Pondok Cabe Tanggerang Selatan, Selasa (2/11).

Selasa, 26 April 2011

100 Tahun Sjafruddin Prawiranegara (28 Februari 1911-15 Februari 1989)

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Awal tahun 2011, telah dibentuk Panitia 100 Tahun SP (Sjafruddin Prawiranegara), diketuai oleh Dr AM Fatwa. Berbagai kegiatan telah diadakan untuk menggali dan menilai peran sentral tokoh ini untuk Indonesia. Dalam tubuhnya, mengalir darah campuran Banten dan Minangkabau. Di antara banyak tokoh Masyumi yang pernah berguru agama kepada HA Salim melalui JIB (Jong Islamieten Bond/Ikatan Pemuda Islam), SP termasuk perkecualian.

Rabu, 20 April 2011

Nasib, Juragan Bebek Beromzet Puluhan Juta

Erlangga Djumena | Jumat, 15 April 2011 | 16:32 WIB

KOMPAS/ABDUL LATHIF
KOMPAS.com  - Krisis moneter tahun 1998 ternyata menjadi tonggak baru dalam sejarah kehidupan Nasib Budiono, peternak itik/bebek asal Dusun Gedang, Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
”Sebelum membuka usaha ternak sendiri, saya ikut Pak Suwardi. Selama 12 tahun saya bekerja di peternakan milik beliau dan banyak belajar tentang bagaimana beternak bebek secara baik dan benar,” kata Nasib Budiono.

Minggu, 10 April 2011

Ajahn Brahm, Si Winnie the Pooh


Kompas/Lasti Kurnia
Ajahn Brahmavamso
Maria Hartiningsih
Andai Ajahn Brahmavamso (60) tidak menjadi bhikku, barangkali dia sudah jadi pelawak atau aktor. Ceramahnya ringan, segar, dan jenaka. Lelucon-leluconnya mengandung pesan moral tak bersekat, tidak menggurui, tidak menghakimi dan langsung kena di hati.

Kamis, 07 April 2011

Profesor termuda di AS adalah WARGA NEGARA INDONESIA

Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia. Kenapa?
Nelson Tansu lahir di Medan, 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

Prijanto, Wagub DKI, Mantan Jenderal Yang Humoris


Di balik kebersahajaan seorang Prijanto, purnawirawan TNI ini juga merupakan sosok yang sangat religius dalam kehidupannya sehari-hari. Pria kelahiran Ngawi Jawa Timur, 26 Mei 1961 ini sejak kecil hingga kini masih rajin melakukan ritual puasa sunnah Senin-Kamis serta rutin melaksanakan ibadah sholat malam (tahadjud).
Prijanto merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara lahir dari pasangan Sumantri Wignjowijandjono dan Sumirah. Sang ayah merupakan seorang guru agama Islam di Ngawi serta merupakan pegawai kantor Pendidikan Agama di Karesidenan Madiun. Prijanto kecil dikenal sebagai anak yang pandai bergaul dan memiliki banyak teman, namun untuk menjaga dari hal-hal negatif orangtuanya terus membekali Prijanto dengan ilmu agama.

Sebagai seorang guru agama, ayahanda Prijanto bahkan turun langsung menggembleng anak-anaknya dengan selalu menggelar pengajian di rumah."Kadang-kadang pengajiannya dilakukan di rumah, kadang di rumah tetangga. Yah, hitung-hitung sambil membangun silaturahmi dengan lingkungan," kenang Prijanto. Dalam pengajian itu, Prijanto kecil juga mengajak teman-teman bermainnya untuk bersama-sama menimba ilmu agama dari sang guru yang notabene adalah ayahnya sendiri. "Sejak kecil ayah saya selalu menanamkan bahwa dalam hidup ini bekal paling penting adalah agama. Ini mutlak dan perlu. Tidak bisa ditawar-tawar," jelas pria yang pensiun dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal TNI itu.

Komaruddin Hidayat

Komaruddin Hidayat (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 18 Oktober 1953; [1] adalah rektor Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta untuk periode 2006-2010.[1] Selain sebagai akademisi, ia juga menjadi penulis kolom di beberapa media massa.[2] Kemampuan inteletualitasnya ia tunjukkan dengan menjadi peneliti di beberapa lembaga kajian dan penelitian.[2]
Karier
Sejak kecil Komar dekat dengan dunia Islam utamanya pesantren.[2] Komarudin merupakan Alumni pesantren modern Pabelan, Magelang (1969) dan Pesantren al-Iman, Muntilan (1971).[2] Setelah lulus dari pesantren, ia melanjutkan studi sarjana muda (BA) di bidang Pendidikan Islam (1977) dan sarjana Lengkap (Drs.) di bidang Pendidikan Islam (1981) di IAIN Jakarta.[1]
Komar melanjutkan studi doktoral ke luar negeri.[1] Ia Meraih doktor di bidang Filsafat Barat di Middle East Techical University, Ankara, Turkey (1990).[1]
Pada 17 Oktober 2006, dalam rapat senat yang dipimpin oleh Azyumardi Azra, di Auditorium utama UIN Syarif Hidayatullah, Komar terpilih sebagai rektor universitas tersebut.[1] Ia memenangi pemilihan suara atas dua kandidat lainnya yakni Prof. Dr. Masykuri Abdillah dan Prof. Dr. Suwito.[1]